Mapalus Budaya Kami “Masyarakat Minahasa”

Suatu saat, ketika saya sedang memberikan sosialisasi Budaya Anti Korupsi kepada pegawai pada sebuah Pemerintah Daerah di Sulawesi Utara, ada seorang Kepala Dinas bertanya “Mapalus adalah budaya kami, apakah itu termasuk gratifikasi jika sumbangan saya berikan kepada penyelenggara pemerintah (ASN)?”.

Kira-kira begitu pertanyaan dari peserta sosialisasi pada waktu itu. Disini saya tidak akan membahas terkait dengan gratifikasi, namun saya akan membahas tentang mapalus, budaya masyarakat Suku Minahasa.

Pada saat itu kata “mapalus” sangat asing di telinga saya karena memang saya baru beberapa bulan bertugas di Sulawesi Utara. Ternyata mapalus adalah sebuah tradisi turun-temurun dalam bentuk gotong royong yang didasari dengan rasa kekeluarggaan. Sebutan mapalus ini sama artinya dengan istilah “sambatan” atau “sumbang surung” yang ada di daerah Jawa Tengah.

Awalnya mapalus hanya dalam bentuk gotong royong dalam bidang pertanian. Anggota mapalus saling membantu dalam pekerjaan pertanian mulai dari persiapan tanam, tanam, dan sampai dengan pekerjaan memanen hasil pertanian.

Seiring dengan perkembangan zaman, bentuk mapalus mengalami perluasan. Mapalus diterapkan di hampir setiap kegiatan masyarakat seperti mapalus nelayan, mapalus uang, mapalus duka atau kematian, dan mapalus perkawinan.

Ketika ada anggota mapalus yang mempunyai hajat, anggota mapalus lainnya harus memberikan “palus” baik dalam wujud uang, barang, atau tenaga. Demikian juga orang atau keluarga yang pernah mendapatkan “palus” atau bantuan harus membalasnya sesuai dengan yang peranah diberikan. Jika tidak membalas maka biasanya akan mendapat sanksi sosial dari anggota mapalus lainnya.

1 thought on “Mapalus Budaya Kami “Masyarakat Minahasa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: