Maturitas Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP)

Pengertian

Maturitas secara bahasa berarti kematangan atau kedewasaan. Jadi maturitas SPIP dapat diartikan sebagai tingkat kematangan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern di lingkungan instansi pemerintah.

Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam Pedoman Penilaian dan Strategi Peningkatan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah menyebutkan bahwa tingkat maturitas SPIP merupakan kerangka kerja yang menunjukkan karakteristik dasar kematangan penyelenggaraan SPIP yang terstruktur dan berkelanjutan serta dapat digunakan sebagai instrumen evaluatif dan panduan generik dalam peningkatan efektivitas penyelenggaraan SPIP.

Tingkat kematangan ini berati menunjukkan kualitas, dimana seharusnya semakin tinggi level Maturitas penyelenggaraan SPIP pada instansi pemerintah, diharapkan akan semakin baik kualitas pencapaian tujuan instansi pemerintah dan birokrasi yang semakin berkualitas.

Pedoman Penilaian dan Strategi Peningkatan SPIP dapat diunduh disini.

Level Maturitas SPIP

Berdasarkan Peraturan Kepala BPKP Nomor 4 Tahun 2016, maturitas SPIP dibagi menjadi 5 level yang menunjukkan tingkat kematangan penyelenggaraan SPIP pada suatu instansi pemeritah, yaitu sebagai berikut:

    1. Belum Ada (Level 0)
      Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah belum mempunyai kebijakan dan prosedur untuk melaksanakan praktik-praktik pengendalian intern.
    2. Rintisan (Level 1)
      Pada tingkat ini, Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah telah menyadari pentingnya pengendalian intern. Pendekatan risiko dan pengendalian yang diperlukan masih bersifat ad-hoc dan tidak terorganisasi dengan baik, tanpa komunikasi dan pemantauan. Kelemahan tidak diidentifikasi. Para Pegawai tidak menyadari tanggung jawabnya.
    3. Berkembang (Level 2)
      Pada tingkat ini, Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah telah melaksanakan praktik pengendalian intern, namun tidak terdokumentasi dengan baik dan pelaksanaannya sangat tergantung pada individu, belum melibatkan semua unit organisasi. Oleh sebab itu, keandalan SPIP masih berbeda dari satu unit organisasi ke unit lainnya dalam satu Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah. Efektivitas pengendalian belum dievaluasi sehingga banyak terjadi kelemahan yang belum ditangani secara memadai. Tindakan Pimpinan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah menangani kelemahan tidak konsisten..
    4. Terdefinisi (Level 3)
      Pada tingkat ini, Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah telah melaksanakan praktik pengendalian intern dan terdokumentasi dengan baik. Namun evaluasi atas pengendalian intern dilakukan tanpa dokumentasi yang memadai. Beberapa kelemahan pengendalian terjadi dengan dampak yang cukup berarti bagi pencapaian tujuan organisasi.
    5. Terkelola dan Terukur (Level 4)
      Pada tingkat ini, Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah telahmenerapkan pengendalian internal yang efektif. Masing-masing personel pelaksana kegiatan selalu mengendalikan kegiatan pada pencapaian tujuan kegiatan itu sendiri maupun tujuan Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah. Evaluasi dilakukan secara formal dan terdokumentasi. Namun demikian, kebanyakan evaluasi dilakukan secara manual, belum menggunakan alat bantú aplikasi komputer.
    6. Optimum (Level 5)
      Pada tingkat optimum, Kementerian/Lembaga/Pemerintah Daerah telah menerapkan pengendalian intern yang berkelanjutan, terintegrasi dalam pelaksanaan kegiatan dan didukung oleh pemantauan otomatis menggunakan aplikasi komputer. Akuntabilitas penuh diterapkan dalam pemantauan pengendalian, manajemen risiko, dan penegakan aturan. Evaluasi diri sendiri (self assessment) atas pengendalian dilakukan secara terus menerus berdasarkan analisis gap dan penyebabnya. Para pegawai terlibat secara aktif dalam penyempurnaan sistem pengendalian intern.

Baca juga: Pengendalian Intern di Lingkungan Pemerintah

Demikian penjelasan terkait dengan maturitas SPIP, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: