“Torang Samua Basudara” Slogan Persatuan Masyarakat Sulawesi Utara

Torang samua basudara, slogan ini pasti tak asing  ditelinga kita semua. Ya, slogan perekat persatuan dan kesatuan serta lambang perdamaian yang berasal dari Provinsi Sulawesi Utara.

Orang Sulawesi Utara menyebut “kita” dengan “torang” yang merupakan singkatan dari “kita orang”. Jadi Torang samua basudara artinya kita semua bersaudara.

Slogan Torang samua Basudara pertama kali digaungkan oleh Mantan Gubernur Sulwesi Utara E.E Mangindaan pada tahun 1990-an dimana pada saat itu terjadi konflik di Poso Sulawesi Tengah. Slogan tersebut bertujuan untuk menjaga kerukunan dan keamanan di Sulawei Utara dengan semangat persaudaraan.

Hingga sekarang slogan tersebut masih mendarah daging dalam masyarakat Sulawesi Utara. Hal ini terlihat dari jarangnya ada konflik terkait dengan isu Suku, Agama, Ras, dan antargolongan (SARA) di Sulawesi Utara. Masyarakat yang terbuka dan sangat menghargai perbedaan, walaupun di Sulawesi Utara terdiri dari banyak suku dan beberapa agama yang berbeda.

Keterbukaan masyarakat Sulawesi Utara dapat kita lihat dalam budaya bekerja sama atau gotong royong di berbagai bidang kemasyarakatan. Seperti bidang pertanian, perkawianan, kedukaan, dan masih banyak lagi. Mereka saling membantu atau tolong-menolong secara bergiliran untuk membuka lahan baru, mengambil ikan hasil nelayan melaut, ketika ada orang meninggal, perkawinan, dan lain sebagainya. Masyarakat Minahasa menyebut bentuk kerja sama ini disebut Mapalus.

Bentuk persatuan lainnya adalah terciptanya komunitas “Jaton” atau Jawa Tondano yang ada di Kabupaten Minahasa. Awalnya masyarakat jawa ini adalah pengikut dari Kyai Mojo yang diasingkan oleh Belanda ke Sulawesi Utara yang kemudian menyatu dengan menikah dengan penduduk asli Tondano Minahasa. Saat ini mereka sudah turun menurun dan hidup damai.

Semoga nilai-nilai persatuan ini bisa dijadikan contoh untuk diterapkan di daerah lainnya sehingga peristiwa yang memilukan seperti konflik Poso, Papua, Ambon, dan lainnya tidak terjadi lagi.

Baca juga: Mapalus Budaya Kami “Masyarakat Minahasa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: