Asumsi Dasar Ekonomi Makro

Asumsi dasar ekonomi makro adalah indikator utama ekonomi makro yang digunakan sebagai acuan dalam menyusun postur APBN. Asumsi dasar ekonomi makro (ADEM) disusun mengacu pada sasaran-sasaran pembangunan jangka menengah yang terdapat pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) maupun sasaran-sasaran tahunan yang terdapat pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Selain itu, asumsi dasar ekonomi makro APBN juga disusun dengan mempertimbangkan perkembangan ekonomi domestik maupun global agar asumsi yang digunakan dapat merepresentasikan kondisi perekonomian terkini.

Asumsi dasar ekonomi makro terdiri atas 6 indikator utama, yaitu:

  1. Pertumbuhan ekonomi
  2. Inflasi
  3. Nilai tukar rupiah terhadap dolar US
  4. Suku Bunga SPN 3 bulan
  5. Harga minyak mentah Indonesia
  6. Lifting minyak Indonesia

Proses perumusan asumsi dasar ekonomi makro dilakukan melalui rapat koordinasi yang dilakukan secara intensif antar pihak Pemerintah (Kementerian Keuangan, Bappenas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Pusat Statistik, dan Bank Indonesia).

Baca juga: Siklus Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

 

A. Pertumbuhan Ekonomi

Untuk menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi, perlu memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP). PDB atau GDP adalah total produksi barang dan jasa yang dihasilkan di dalam suatu wilayah pada periode tertentu, misalnya satu tahun. (Di level provinsi di Indonesia biasanya disebut Produk Domestik Regional Bruto-PDRB)

Secara prinsip PDB dapat dihitung melalui 3 pendekatan yang secara konsep ketiga pendekatan tersebut akan menghasilkan angka yang sama. Secara ringkas, metode penghitungan PDB dapat dilihat dari gambar dibawah ini.

Nilai PDB dapat dilihat dalam nilai harga berlaku (PDB Nominal) dan harga konstan (PDB Riil). Perbedaan antara PDB Nominal dan PDB Riil terletak pada komponen pergerakan harga. PDB Nominal di dalamnya terkandung perubahan harga pasar baik itu kenaikan harga (inflasi) atau penurunan harga (deflasi). Artinya nilai PDB nominal sangat dipengaruhi oleh tingkat harga yang berlaku saat itu sehingga meskipun tingkat produksi atau output tidak bertambah namun apabila terjadi kenaikan harga maka nilai PDB nominal akan meningkat dari periode sebelumnya senilai perubahan harga yang terjadi.

Sedangkan PDB konstan adalah nilai PDB yang dihitung berdasarkan harga pada tahun dasar tertentu. Dengan kata lain PDB harga konstan tidak memperhitungkan perubahan harga yang terjadi dan perubahan nilai PDB merupakan perubahan tingkat produksi/output

Berdasarkan periode waktu yang digunakan, data pertumbuhan ekonomi dapat disajikan dalam 3 pendekatan sebagai berikut:

  1. Pertumbuhan ekonomi triwulan ke triwulan (quarter to quarter atau q to q), yaitu pertumbuhan ekonomi (atas dasar harga konstan) yang dihitung dengan membandingkan nilai PDB pada triwulan tertentu dengan nilai PDB triwulan sebelumnya.
  2. Pertumbuhan ekonomi tahun ke tahun (year on year), yaitu pertumbuhan ekonomi (atas dasar harga konstan) yang dihitung dengan membandingkan nilai PDB pada periode tertentu dengan nilai PDB periode yang sama tahun sebelumnya sebelumnya.
  3. Pertumbuhan ekonomi kumulatif ke kumulatif (cumulative to cumulative), pertumbuhan ekonomi (atas dasar harga konstan) yang dihitung dengan membandingkan nilai kumulatif PDB pada periode tertentu dengan nilai PDB kumulatif periode yang sama pada tahun sebelumnya.

B. Inflasi

Berdasarkan international best practice, indikator inflasi dapat menggunakan 2 indikator sebagai berikut:

1. Indeks Harga Konsumen (IHK).

Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota;

2. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB)

Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.

C. Suku Bunga SPN 3 Bulan

Asumsi suku bunga yang digunakan dalam APBN adalah acuan tingkat imbal jasa atau kompensasi atas utang Pemerintah. Acuan tingkat suku bunga yang digunakan adalah tingkat bunga mengambang seri variable rate yang dihasilkan dari proses lelang, sebagai representasi beban bunga utang tahun berjalan.

D. Nilai Tukar Rupiah Terhadap USD

Angka asumsi dasar nilai tukar rupiah yang digunakan dalam APBN adalah angka rata-rata kurs tengah (kurs rata-rata dari kurs beli dan kurs jual) harian nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat (AS) selama tahun berjalan (Januari sampai dengan Desember).

Berikut ini beberapa jenis kurs yang digunakan sebagai indikator :

  1. Kurs jual, adalah kurs yang dipakai apabila bank menjual valuta asing kepada nasabahnya;
  2. Kurs beli, adalah kurs yang dipakai pada saat bank membeli Valuta asing dari nasabahnya;
  3. Kurs Tengah, adalah kurs yang ditetapkan berdasarkan kurs beli dan kurs jual dibagi dua, Gunanya untuk mendapatkan kurs untuk perhitungan-perhitungan yang bersifat umum;
  4. Rata-rata nilai kurs bulanan adalah jumlah nilai kurs tengah dalam periode 1 bulan dibagi dengan jumlah periode waktu selama 1 bulan;
  5. Rata-rata nilai kurs tahunan adalah jumlah rata-rata nilai kurs tengah bulanan selama 1 tahun dibagi dengan jumlah periode waktu 12 bulan.

E. Harga Minyak Mentah Indonesia

Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) merupakan dasar monetisasi harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional (satuan yang digunakan adalah USD per barel) yang penetapannnya dilakukan setiap bulan oleh Kementerian ESDM. Angka asumsi dasar harga minyak mentah yang digunakan dalam APBN adalah harga rata-rata ICP selama satu periode tahun berjalan. Penetapan ICP oleh Kementerian ESDM dilakukan berdasarkan 4 prinsip utama yaitu:

  1. Fairness & transparency (jelas, obyektif dan transparan);
  2. International Competitiveness (dapat bersaing dengan harga minyak mentah dari kawasan atau negara lain);
  3. Stability (formula relatif stabil dan ICP yang dihasilkan dari formula tidak berfluktuatif);
  4. Continuity (diberlakukan dalam periode yang cukup panjang selalu mengikuti perkembangan harga pasar minyak mentah internasional, dan formula ICP akan dievaluasi secara berkala).

ICP dipengaruhi oleh kondisi pasar minyak internasional seperti harga minyak mentah dunia lainnya (West Texas Intermediate dan Brent). Kondisi pasar minyak internasional dimaksud yaitu:

  1. Faktor fundamental
  2. Faktor yang dipengaruhi mekanisme penawaran (produksi, stok, kondisi kilang, fasilitas pipa dan kebijakan produksi) dan permintaan (tingkat pertumbuhan ekonomi, kebutuhan, musim, dan ketersediaan teknologi sumber tenaga alternatif)
  3. Faktor non fundamental
  4. Faktor lain di luar mekanisme penawaran dan permintaan, seperti: kekhawatiran pasar akibat gangguan politik, keamanan, dan aksi spekulasi di pasar minyak.

F. Lifting Minyak

Lifting minyak bumi adalah tingkat produksi minyak mentah dan/atau gas bumi yang siap untuk dijual atau dibagi di titik penyerahan (custody transfer point atau point of sales). Sedangkan produksi minyak adalah total produksi minyak dari perut bumi yang beberapa bagiannya ada yang dipakai untuk kegiatan eksplorasi minyak bumi lagi, sehingga tidak seluruhnya digunakan untuk proses selanjutnya. Jadi bisa dikatakan juga bahwa lifting minyak bumi adalah total produksi dikurangi minyak yang dipakai lagi untuk eksplorasi. Angka lifting minyak mentah yang digunakan sebagai asumsi dasar ekonomi makro APBN adalah angka rata-rata dari realisasi bulanan lifting minyak perhari selama periode satu tahun berjalan (Januari sampai Desember). Asumsi lifting minyak dalam APBN digunakan sebagai dasar perhitungan penerimaan PNBP migas. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta BP Migas merupakan institusi yang terlibat dalam penetapan asumsi dasar lifting minyak.

Selain diproduksi untuk dijual (lifting), produksi minyak mentah Indonesia digunakan untuk kegiatan operasional sebagai pembangkit energi, persediaan di kilang operasi atau kilang penampungan.

Demikian penjelasan terkait dengan Asumsi Dasar Ekonomi Makro, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: